Sang Pemimpi


Written on 13 April 2008 – 16:58 | by kirman

sang pemimpiSiang tadi saya menyelesaikan novel terbaru yang saya beli dari toko buku Gramedia Matraman Jakarta Timur, yang berjudul “Sang Pemimpi”. Novel karangan Andrea Hirata ini merupakan buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi, yang mana karya lainnya adalah Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov. Sengaja saya membeli yang kedua karena yang pertama, Laskar Pelangi sudah tahu isinya lewat Kick Andy meski belum membaca. Dua minggu tepat saya selesai membaca novel karya anak Belitong ini sejak pembelian tanggal 30 Maret lalu.

Tidak cengeng dan tidak menggurui bahasa yang dipakainya. Hanya saja penjelasan mengenai kata-kata asing yang belum dikenal tidak disertakan dibagian footer buku sebagai catatan kaki. Namun diberikan di glosarium bagian akhir. Tentu saja hal ini akan merepotkan pembaca lantaran harus membolak-balik kata asing dengan membukanya di halaman akhir.

Bercerita tentang dua tokoh utama yaitu Ikal dan Arai, Andrea menggiring pembaca untuk menelusuri kehidupan tokoh utama di bangku SMA Bukan Main (Andrea menyebut SMA Negeri satu satunya di pulau Belitong itu). Bukan kecengengan dan kenakalan seperti yang diekspos di film-film murahan saat ini kehidupan yang dijalani kedua tokoh utama. Namun kerja keras dan sebuah mimpi besar lah yang coba ia gambarkan.

Sedikit konyol diawal cerita namun semakin membuat cerita itu luar biasa. Di tengah cerita, juga menceritakan sebuah adegan konyol berbau porno, namun tidak jorok dan masih layak dikonsumsi. Sehingga bisa menjadi bumbu tersendiri dalam novel ini, yaitu cerita tentang si “Carik Merah” yang menggoda mereka untuk terjerumus ke dalam lembah kesesatan. Pada saat itulah Andrea membuat kejutan pada tokoh utama Ikal, Arai, dan satu lagi teman akrabnya bernama Jimbron. Ingin tahu seperti apa kejutan yang dibuatnya, baca saja sendiri ;) .

Drama percintaan yang tidak cengeng, persahabatan sejati, ketololan dalam berimajinasi, dan keteguhan sang pemimpi dalam mewujudkan mimpinya diceritakan cukup baik. Diselingi dengan religitas yang tidak terlalu kental semakin membuat cerita ini merasuk ke jiwa pembacanya.

Di akhir cerita, sang pengarang menceritakan keberhasilan dalam mewujudkan mimpinya yang diraih dengan pengorbanan dan kerja keras. Pada bagian akhir inilah, saya benar-benar terbawa arus ceritanya yang seakan-akan ikut menangis haru atas keberhasilan Sang Pemimpi meraih mimpinya, surat pengumuman kelulusan mendapat beasiswa kuliah di luar negeri, Perancis.

Dahulu saat saya masih SMA pernah bermimpi untuk kuliah ke Jerman. Sekarang saya sudah lulus dari perguruan tinggi negeri terbaik ketiga se-Indonesia tahun 2005 di Surabaya, meski hanya tingkat Diploma. Sampai saat ini mimpi itu masih tetap ada. Saya hanya bisa berharap dan berdoa serta berusaha bahwa mimpi itu semoga engkau wujudkan ya Allah. “Jangan pernah mendahului nasib”, kata Arai dalam novel itu, menjadi sebuah inspirasi bahwa kita tidak boleh pesimistis. “Karena pesismis merupakan penghalang dari segala mimpi yang kita impikan”, kira-kira seperti inilah sedikit pesan yang bisa saya tangkap dari novel ini.

Tidak akan tahu nasib kita seperti apa beberapa tahun mendatang
Tidak ada yang tahu kehidupan ini seperti apa kedepannya
Namun jangan pernah pesismis dengan keadaan saat ini
Sesuatu yang baik akan berbuah baik pula di kemudian hari

Optimislah …!
Karena pesimis akan menjadi dinding penghalang mimpi ini.



  1. One Response to “Sang Pemimpi”

  2.   By senosuke on Nov 12, 2008 | Reply

    Welll q suka ma novel-novelnya.. Tapi kenapa buku keempat ga terbit2 ya??

Post a Comment

jika anda melihat tulisan ini, aktifkan css anda